Ketika Kau Sematkan Cincin itu lagi

13 Apr 2011

Siapa sih yang bisa tau apa yang akan terjadi dimasa depan, satu menit kedepan pun gak akan ada yang mengerti.. pada setiap kebahagiaan datang seharusnya kita juga siap menanti datangnya kesedihan, atau mungkin bonus kalau kebahagiaan yang datang malah bertubi-tubi. Sebaliknya jika kesedihan yang sedang menghampiri, maka bersiaplah karena kebahagiaan itu segera akan datang, senyum akan terbit bersamaan datangnya mentari sang pembawa harapan bagi kehidupan. Kalo setelah kesedihan yang datang tetap kesedihan, yaa optimis aja pasti tetap akan ada kebahagiaan yang tersisa, asal kita tidak berputus asa terhadap kasih sayang dan pertolongan Nya.

Makanya ya kata orang tua kalo lagi senang ketawa jangan suka berlebihan, nanti malahan jadi nangis loh. Dulu saya gak ngerti kenapa ibu selalu berpesan demikian, Sekarang ??? masih kesulitan menjelaskan korelasinya tapi sengertinya saya emang pesan itu ada benernya juga. Kalo lagi seneng jangan berlebihan, harus tetap inget kalo gak akan ada yang bertahan selamanya di dunia ini, senang dan sedih akan datang silih berganti.

Teringat kejadian hampir setahun yang lalu, saat itu kebahagiaan sedang menghampiri kami, suami mendapatkan promosi jabatan dan segera pindah satuan, beruntung pindahnya pun tidak terlalu jauh waktu itu, jadi kami tidak terlalu kesulitan untuk acara pindah-pindahan. Selain itu suami juga mendapatkan kesempatan untuk ikut seleksi sekolah lanjutan kemiliterannya. Pikiran dan konsentrasi kami tercurah pada kedua hal tersebut. Suami telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, karena seleksi untuk sekolah itu sungguh berat, persaingan pun sungguh ketat. Tidak berbeda dengan suami, saya pun juga harus mempersiapkan diri dan mental mengurus keperluan dirumah dan persiapan pindah rumah tanpa kehadiran suami.

Tapi tanpa disangka sebuah kejadian yang tidak mengenakkan terjadi, rumah dinas kami dibobol masuk pencuri dan mengambil seluruh perhiasan kami yang ada, termasuk mas kawin dan cincin kawin kami. Saya masih ingat perasaan saya saat itu, jantung bergemuruh tak karuan rasanya.. MasyaAllah, kenapa semua harus terjadi di tempat yang saya pikir paling aman dan kenapa disaat yang seperti ini ? Tiada hentinya pertanyaan itu melintas dipikiran. Tidak mungkin juga menghubungi suami, saya takut membuyarkan konsentrasinya kala itu. Orang pertama yang saya hubungi adalah anggota suami yang memang sudah dekat dengan keluarga kami. Tiba-tiba perasaan sedih memenuhi relung hati dan tidak dapat lagi saya tahan, perasaan harus menghadapi situasi tidak mengenakkan itu sendirian.

Sepanjang hari rumah saya dipenuhi bapak-bapak tentara yang ditugaskan menangani kasus ini, ditambah bapak-bapak Polisi bagian Reskrim dengan segala peralatannya, serasa berada di salah satu tayangan BUSER di TV. Pak Polisi bertanya detail mengenai kronologis kejadian. Hampir satu jam interview dengan bapak polisi berlangsung, saya berusaha keras memaksa otak untuk tetap dapat berpikir logis dan tidak terhanyut dalam rasa sedih. Beberapa Ibu dan tetangga juga berdatangan, berulang kali bercerita tentang kejadian yang terjadi, berulang kali pula hati saya bergetar setiap kali saya menceritakannya. Ditambah melihat grendel jendela yang tercongkel yang dilakukan pelaku, seresa hati saya juga terkoyak Setelah semua orang pulang, setelah rumah menjadi kembali sunyi perasaan saya semakin dicekam kesedihan, luar biasa sulit menahan tetesan air mata.

Waktu terus berjalan, walau terasa sulit pada awalnya belajar untuk ikhlas menerima ketetapan Nya. Sekuat hati saya tetap berusaha menampilkan senyum ketabahan dihadapan suami, tidak mungkin saya lebih membebaninya dengan kesedihan yang saya rasakan, sedangkan dia sedang membutuhkan konsentrasi yang cukup untuk seleksi sekolahnya. Saya hanya bisa membawa kesedihan itu dalam doa, berdoa tanpa berbicara karena mulut ini sudah tak sanggup lagi berujar. Berdoa tanpa berbicara, saya yakin Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui seluruh isi hati ini. Hal yang menguatkan hanyalah nasihat orangtua yang mengatakan yakinlah semua yang ada hanyalah titipan Nya, jangan terlalu bersedih karena semua yang terjadi tentu karena kehendak Sang Pemilik Segalanya. Kami yakin sesuatu terjadi karena sebuah alasan, ketika kami memohon kekuatan Dia memberikan kami kesulitan untuk membuat kami lebih kuat pastinya.

Setelah berjalannya waktu, saat itu pada ulang tahun pernikahan kami yang ke 5 suami menghadiahkan saya cincin kawin sebagai pengganti cicin kami yang hilang. Rasa haru menyelimuti perasaan ini, ketika suami tercinta menyematkan cincin itu lagi. Rasa bahagia karena kami berdua menjalani segala ujian dari Nya dengan saling menguatkan. Rasa penuh syukur karena Allah telah mengganti duka itu dengan kebahagiaan yang luar biasa. Kejadian ini benar2 diluar dugaan, entah darimana datangnya ide ke suami, namun sungguh kejutan manis yang membahagiakan.

Beberapa bulan setelahnya kebahagiaan kembali datang menyapa, Alhamdulillah apa yang kami cita-citakan terkabul, suami lolos seleksi untuk sekolah lanjutan kemiliterannya. Mendengar berita membahagiakan itu, hati saya malah cenderung larut dalam keharuan yang mendalam. Seakan tak percaya Allah telah mengabulkan doa kami dan tentunya tiada hal yang lebih membahagiakan selain terkabulnya setiap doa kita.

Ibaratnya mobil, kaca spion selalu dibuat lebih kecil dibandingkan kaca depan yang dibuat jauh lebih besar, karena dalam memandang masa lalu tidak perlu menyita seluruh perhatian kita, cukup kita jadikan pengalaman dan pembelajaran tanpa menjadi penghalang langkah kita menuju masa yang akan datang yang jauh lebih berharga. Membicarakan hal ini lagi bukan bermaksud untuk membuka luka lama itu, namun lebih untuk mengingatkan diri sendiri agar belajar mendewasakan hati, mencerdaskan kalbu, berusaha memantaskan diri menjadi hamba yang ingin disayangi dan dikasihi oleh Nya.


_reen


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive